<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>ANALISIS KOMPARATIF SQUEEZENET DAN SHUFFLENET DALAM KLASIFIKASI PENYAKIT MATA BERBASIS CITRA RETINA DENGAN PENDEKATAN EXPLAINABLE AI</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Reva Danindra</mods:namePart><mods:namePart type="family">Aulia</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penyakit mata merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi&#13;
terhadap penurunan kualitas penglihatan, sehingga diperlukan deteksi dini agar&#13;
penanganan dapat dilakukan dengan tepat dan akurat. Penelitian ini bertujuan&#13;
membandingkan kinerja dua arsitektur Convolutional Neural Network (CNN), yaitu&#13;
SqueezeNet dan ShuffleNet, dalam klasifikasi penyakit mata berbasis citra retina.&#13;
Dataset yang digunakan berasal dari Kaggle dan terdiri dari empat kelas, yaitu&#13;
cataract, diabetic retinopathy, glaucoma, dan normal. Penelitian menerapkan&#13;
transfer learning dengan dua strategi pelatihan, yaitu fixed feature extraction dan&#13;
partial fine-tuning. Evaluasi dilakukan menggunakan metrik akurasi, presisi, recall,&#13;
F1-score, efisiensi komputasi, serta pendekatan Explainable Artificial Intelligence&#13;
(XAI) melalui Grad-CAM.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi partial fine-tuning&#13;
memberikan performa yang lebih baik dibandingkan fixed feature extraction pada&#13;
kedua model. ShuffleNet dengan partial fine-tuning memperoleh akurasi tertinggi&#13;
sebesar 91%. Dari sisi efisiensi komputasi, SqueezeNet memiliki ukuran model dan&#13;
jumlah parameter yang lebih kecil dan waktu pelatihan cepat dibandingkan&#13;
ShuffleNet. Berdasarkan visualisasi Grad-CAM, ShuffleNet menunjukkan fokus&#13;
perhatian yang lebih terarah pada area retina yang merepresentasikan gejala&#13;
penyakit. Secara keseluruhan, ShuffleNet dengan partial fine-tuning merupakan&#13;
model paling optimal karena mampu memberikan performa klasifikasi dan&#13;
interpretasi visual yang lebih baik, meskipun membutuhkan sumber daya&#13;
komputasi yang lebih besar dibandingkan SqueezeNet.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">000 Ilmu komputer, informasi dan pekerjaan umum</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-25</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ilmu Komputer</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>