<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>ANALISIS KOMPARATIF VISION TRANSFORMER (VIT)&#13;
MENGGUNAKAN HYBRID FINE-TUNING–XGBOOST &#13;
UNTUK KLASIFIKASI PENYAKIT KATARAK &#13;
BERBASIS CITRA MATA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Nadiyatulhusna</mods:namePart><mods:namePart type="family">-</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penyakit katarak merupakan penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah&#13;
jika didiagnosis secara dini. Namun, pemeriksaan manual citra fundus seringkali&#13;
memakan waktu dan bergantung pada keahlian spesialis. Penelitian ini bertujuan&#13;
mengembangkan dan menganalisis secara komparatif model klasifikasi citra&#13;
katarak menggunakan arsitektur Vision Transformer (ViT) dengan pendekatan&#13;
hibrida fine-tuning dan eXtreme Gradient Boosting (XGBoost). Eksperimen&#13;
menggunakan data sekunder dari repositori Ocular Disease Intelligent Recognition&#13;
(ODIR) yang dibagi dengan metode Holdout (80% data latih, 20% data uji murni).&#13;
Untuk mengatasi data tidak seimbang dan mencegah overfitting, skema Stratified&#13;
5-Fold Cross Validation dikombinasikan dengan Random Oversampling (ROS)&#13;
secara internal pada setiap lipatan. Skenario penelitian membandingkan model ViT&#13;
murni end-to-end (baseline) dengan model Hybrid ViT-XGBoost, di mana ViT&#13;
bertindak sebagai pengekstraksi fitur laten 768-dimensi dari token CLS dan&#13;
XGBoost sebagai pengklasifikasi akhir berbasis decision tree ensemble. Hasil&#13;
pengujian pada 684 sampel data uji murni menunjukkan model Hybrid ViTXGBoost&#13;
memberikan&#13;
performa&#13;
terbaik&#13;
dengan&#13;
Akurasi&#13;
global&#13;
97%, Presisi&#13;
kelas&#13;
&#13;
katarak&#13;
0,85,&#13;
Recall&#13;
0,84,&#13;
dan&#13;
F1-Score&#13;
0,85.&#13;
Sebaliknya,&#13;
ViT&#13;
murni&#13;
menghasilkan&#13;
&#13;
Akurasi&#13;
lebih&#13;
rendah&#13;
(96%)&#13;
dan&#13;
Presisi&#13;
katarak&#13;
jatuh&#13;
di&#13;
angka&#13;
0,75&#13;
akibat&#13;
18&#13;
kasus&#13;
&#13;
False&#13;
&#13;
Positive. Hambatan atensi global ViT terhadap noise visual (artifak&#13;
pencahayaan dan debu lensa sebesar 8,93% dari data) berhasil diredam oleh batas&#13;
keputusan non-linear XGBoost. Penelitian ini membuktikan model hibrida ini&#13;
menghasilkan diagnosis yang lebih selektif dan andal untuk diimplementasikan&#13;
pada sistem pendukung keputusan klinis masa depan bagi praktisi medis.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">000 Ilmu komputer, informasi dan pekerjaan umum</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-25</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ilmu Komputer</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>