<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>PERSEPSI GENERASI Z PADA MAKNA KEBERANIAN DALAM&#13;
KONTEN LAUNDRY MAJAPAHIT DI TIKTOK</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Asyfa Khoirun</mods:namePart><mods:namePart type="family">Nisa</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Fenomena Laundry Majapahit menjadi salah satu konten viral di TikTok&#13;
yang menampilkan aktivitas mencuci manual dalam suasana yang berbeda dari&#13;
aktivitas laundry pada umumnya. Di tengah kecenderungan Generasi Z yang&#13;
mengutamakan kemudahan dan kepraktisan melalui penggunaan mesin cuci&#13;
maupun jasa laundry, konten tersebut justru menarik perhatian audiens dan&#13;
memunculkan berbagai interpretasi pada aktivitas yang ditampilkan. Penelitian ini&#13;
bertujuan untuk mengetahui persepsi Generasi Z pada aktivitas yang ditampilkan&#13;
dalam konten Laundry Majapahit serta karakteristik keberanian yang muncul dari&#13;
interpretasi audiens pada aktivitas tersebut. Penelitian ini menggunakan&#13;
paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif deskriptif serta Teori&#13;
Persepsi sebagai landasan analisis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam&#13;
pada enam informan Generasi Z pengguna aktif TikTok yang pernah menonton&#13;
dan berinteraksi pada konten Laundry Majapahit. Hasil penelitian menunjukkan&#13;
bahwa persepsi audiens terbentuk melalui tiga tahap, yaitu seleksi, organisasi, dan&#13;
interpretasi. Pada tahap seleksi, audiens belum memaknai, melainkan tertarik pada&#13;
visual, suasana, serta keunikan konsep konten yang ditampilkan. Pada tahap&#13;
organisasi, audiens mulai memahami aktivitas mencuci sebagai aktivitas yang&#13;
berbeda dari kebiasaan modern yang serba praktis dan instan. Selanjutnya, pada&#13;
tahap interpretasi, audiens memaknai aktivitas tersebut sebagai keberanian&#13;
menghadapi situasi yang berbeda dari kebiasaan umum, keberanian menjalani&#13;
proses yang tidak instan, kemampuan menghadapi kondisi yang tidak ideal,&#13;
keterlibatan laki-laki dalam aktivitas domestik, serta keterbukaan pada&#13;
pengalaman baru. Interpretasi tersebut kemudian menunjukkan karakteristik yang&#13;
sejalan dengan konsep keberanian Peterson dan Seligman, yaitu bravery,&#13;
persistence, dan vitality. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik&#13;
keberanian dapat muncul sebagai hasil interpretasi audiens pada aktivitas&#13;
keseharian yang ditampilkan dalam konten media sosial.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-21</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>