<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>DINAMIKA INTERAKSI PARASOSIAL FANDOM ONCE DI&#13;
INDONESIA MELALUI MEDIA SOSIAL X</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Riska M.</mods:namePart><mods:namePart type="family">Barmawi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Perkembangan fenomena Hallyu telah mendorong meningkatnya interaksi&#13;
parasosial dalam komunitas penggemar K-Pop di tingkat global, termasuk fandom&#13;
ONCE sebagai penggemar TWICE di Indonesia, dengan media sosial X sebagai&#13;
platform utama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan dinamika&#13;
interaksi parasosial fandom ONCE melalui media sosial X. Penelitian ini&#13;
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme.&#13;
Pada penelitian ini menggunakan Teori Interaksi Parasosial dan Teori Uses and&#13;
Gratification dengan melibatkan lima informan yang merupakan anggota aktif&#13;
fandom ONCE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika interaksi parasosial&#13;
terwujud secara komprehensif melalui tiga dimensi respons psikologis. Respons&#13;
kognitif tampak pada tingginya alokasi perhatian dan proses evaluasi idola sebagai&#13;
sosok profesional (Task attraction). Respons afektif meliputi emosional berupa&#13;
empati mendalam dan pemanfaatan figur idola sebagai sumber motivasi emosional.&#13;
Sementara respons perilaku tampak pada partisipasi digital kolektif dan dukungan&#13;
nyata (pembelian konsumtif). Secara teoretis, hubungan parasosial ini berada pada&#13;
kategori Intense-Personal Feeling. Temuan penelitian ini mengungkap bahwa&#13;
interaksi parasosial ONCE bersifat rasional dan stabil, menolak fantasi romantis&#13;
berlebihan, sehingga interaksi parasosial berfungsi secara positif sebagai sumber&#13;
dukungan psikologis dan identitas sosial, tanpa mengarah pada fanatisme patologis&#13;
(Borderline-Pathological Tendency). Penelitian ini dapat menjadi referensi&#13;
mengenai interaksi parasosial dalam konteks budaya popular, khususnya pada&#13;
dinamika fandom girl group di era media baru (digital).</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-01-20</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>