<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>REALITAS SOSIAL PELECEHAN SEKSUAL PADA PEREMPUAN&#13;
DALAM LAGU BELENGGU KARYA AMIGDALA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Fadhillah</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ulumudin</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kekerasan seksual merupakan persoalan sosial yang terus mengalami peningkatan di&#13;
Indonesia dan banyak dialami oleh perempuan dari berbagai latar usia. Tidak sedikit korban yang&#13;
memilih diam karena adanya relasi kuasa, tekanan keluarga, rasa takut disalahkan, serta minimnya&#13;
perlindungan hukum yang mereka terima. Pengalaman traumatis ini kemudian banyak diungkap&#13;
melalui karya seni, salah satunya melalui musik. Lagu dan video klip Belenggu karya Amigdala&#13;
merupakan contoh representasi pengalaman perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual dan&#13;
berusaha menyuarakan luka yang tidak mudah diungkapkan secara langsung.&#13;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana representasi kekerasan seksual&#13;
terhadap perempuan ditampilkan dalam lirik dan video klip Belenggu serta bagaimana posisi subjek,&#13;
objek, penulis, dan pembaca dikonstruksikan melalui narasi visual dan verbal. Penelitian ini&#13;
menggunakan teori Analisis Wacana Kritis Sara Mills sebagai alat analisis utama, didukung oleh&#13;
Standpoint Theory dan realitas sosial sebagai penguat interpretasi. Metode penelitian yang&#13;
digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi visual&#13;
video klip, analisis lirik, dokumentasi, serta telaah komentar penonton di platform YouTube.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam video klip secara konsisten&#13;
ditempatkan sebagai objek visual melalui fragmentasi tubuh, pengaburan wajah, gestur&#13;
ketidakberdayaan, serta sudut kamera yang menempatkannya dalam posisi lemah. Pelaku tidak&#13;
ditampilkan secara eksplisit namun hadir melalui simbol dan tindakan yang mendominasi narasi,&#13;
sehingga menjadikannya sebagai subjek yang mengontrol makna. Temuan ini selaras dengan realitas&#13;
sosial di Indonesia di mana banyak korban mengalami pembungkaman, tekanan keluarga, dan&#13;
enggan melapor akibat relasi kuasa. Selain itu, komentar penonton menunjukkan respons yang&#13;
mayoritas berisi empati dan pengakuan pengalaman, sehingga karya ini membentuk ruang&#13;
solidaritas bagi penyintas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Belenggu berhasil menggambarkan&#13;
trauma korban, namun belum sepenuhnya menghadirkan pesan edukatif atau pemulihan karena&#13;
narasi lebih menonjolkan penderitaan dibandingkan pemberdayaan.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2025-12-05</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>