<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>PEMETAAN TINGKAT BAHAYA BENCANA TSUNAMI DI&#13;
DAERAH PESISIR DESA DULOLONG BARAT DAN DESA&#13;
LEWALU KABUPATEN ALOR BARAT LAUT</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Rifki Wahyu</mods:namePart><mods:namePart type="family">Pratama</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Bencana tsunami merupakan ancaman serius yang berpotensi menimbulkan&#13;
kerusakan besar di wilayah pesisir. Desa Dulolong Barat dan Desa Lewalu yang&#13;
terletak di Kabupaten Alor Barat Laut termasuk wilayah rawan tsunami karena&#13;
kedekatannya dengan zona subduksi aktif dan kondisi geomorfologinya yang datar&#13;
serta berdekatan dengan garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan&#13;
tingkat bahaya bencana tsunami dengan memanfaatkan teknologi penginderaan&#13;
jauh berupa foto udara dan sistem informasi geografis (SIG). Metode yang&#13;
digunakan mencakup pengolahan data spasial melalui skoring dan pembobotan&#13;
terhadap lima parameter utama: penggunaan lahan, elevasi, kemiringan lereng,&#13;
jarak ke garis pantai, dan jarak ke sungai. Data foto udara diolah menggunakan&#13;
perangkat lunak metashape untuk menghasilkan orthophoto dan DEM, sedangkan&#13;
Global Mapper dan ArcMap digunakan untuk pengolahan dan analisis spasial. Hasil&#13;
akhir penelitian berupa peta bahaya tsunami yang mengklasifikasikan wilayah ke&#13;
dalam lima tingkat bahaya, dari sangat rendah hingga sangat tinggi. Temuan&#13;
penelitian menunjukkan bahwa Desa Dulolong Barat dan Desa Lewalu yang&#13;
terletak di Kabupaten Alor Barat dikadominasi oleh tingkat bahaya yang paling&#13;
mencolok adalah kategori "sedang", yang merupakan terbesar dengan luas 212,97&#13;
hektar atau hampir 58,6% dari keseluruhan area studi, dengan bahaya tsunami&#13;
sedang ditandai oleh karakteristik geografis dan topografis spesifik, seperti&#13;
ketinggian berkisar antara 25 hingga 50 meter di atas permukaan laut, namun tetap&#13;
rentan terhadap gelombang besar yang dapat menyebabkan banjir dan erosi jika&#13;
tsunami mencapai ketinggian ekstrem.  &#13;
Topografi wilayah yang cenderung miring dengan kemiringan 15-40%&#13;
dapat mempengaruhi aliran air saat bencana, di mana lereng miring mungkin&#13;
mempercepat atau memperlambat banjir tergantung pada intensitas, dan&#13;
penggunaan lahan yang didominasi oleh ladang, semak belukar, serta perkebunan&#13;
membuatnya rentan terhadap kerusakan pertanian dan ekosistem</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">910 Geografi dan perjalanan</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-02-18</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Sains &amp; Teknologi</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>