%A Winda Ayu Fitasari %X Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi pembungkaman dan pelestarian toxic masculinity di lingkungan mahasiswa. Fenomena ini dipahami sebagai praktik komunikasi sehari-hari yang menormalisasi standar maskulinitas hegemonik sekaligus membatasi ekspresi individu yang tidak memenuhi standar tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi untuk mendalami pengalaman sadar mahasiswa terkait praktik toxic masculinity dalam interaksi sosial kampus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan mahasiswa S1 di Yogyakarta menggunakan teknik analisis Phenomenological Data Analysis (PFD) model Moustakas, meliputi tahap epoche, horizontalization, pengelompokan makna, serta penyusunan deskripsi tekstural dan struktural guna memperoleh esensi pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembungkaman dan pelestarian toxic masculinity beroperasi melalui mekanisme yang serupa, yaitu pengulangan wacana, normalisasi standar laki-laki ideal, serta kontrol sosial melalui tuntutan konformitas terhadap norma maskulinitas dominan. Tuntutan tersebut dikonstruksi dalam wacana maskulinitas yang bekerja secara implisit dalam praktik komunikasi sehari-hari dan termanifestasi dalam bentuk candaan, teguran, pertanyaan dan komentar bernada normatif yang menekankan bahwa laki-laki tidak boleh bersikap lemah lembut serta diasosiasikan dengan perilaku seperti merokok, mengonsumsi alkohol, memiliki pasangan perempuan, bermain biliar, kartu dan sepak bola, gim, gym, serta membatasi kedekatan dengan perempuan. Pembungkaman muncul ketika mahasiswa memilih diam, menahan ekspresi, atau menyesuaikan diri akibat tekanan standar maskulinitas dominan. Sementara itu, pelestarian berlangsung melalui penerimaan dan reproduksi norma maskulinitas, termasuk keterlibatan perempuan sebagai agen pelestarian melalui ekspektasi terhadap laki-laki sebagai pasangan yang dominan, royal, dan kuat. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembungkaman dan pelestarian tidak berdiri terpisah, melainkan membentuk pola komunikasi yang saling berkaitan dalam menjaga keberlangsungan toxic masculinity di lingkungan mahasiswa. %D 2026 %K Komunikasi pembungkaman, Pelestarian, Toxic masculinity, Mahasiswa, Fenomenologi, Silencing communication, Perpetuation, Toxic masculinity, University students, Phenomenology. %T KOMUNIKASI PEMBUNGKAMAN DAN PELESTARIAN TOXIC MASCULINITY DI LINGKUNGAN MAHASISWA %I Universitas AMIKOM Yogyakarta %L universitasamikomyogyakarta32542