<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>KOMUNIKASI PEMBUNGKAMAN DAN PELESTARIAN TOXIC&#13;
MASCULINITY DI LINGKUNGAN MAHASISWA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Winda Ayu</mods:namePart><mods:namePart type="family">Fitasari</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi pembungkaman dan&#13;
pelestarian toxic masculinity di lingkungan mahasiswa. Fenomena ini dipahami&#13;
sebagai praktik komunikasi sehari-hari yang menormalisasi standar maskulinitas&#13;
hegemonik sekaligus membatasi ekspresi individu yang tidak memenuhi standar&#13;
tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan&#13;
metode fenomenologi untuk mendalami pengalaman sadar mahasiswa terkait&#13;
praktik toxic masculinity dalam interaksi sosial kampus. Pengumpulan data&#13;
dilakukan melalui wawancara dengan mahasiswa S1 di Yogyakarta menggunakan&#13;
teknik analisis Phenomenological Data Analysis (PFD) model Moustakas,&#13;
meliputi tahap epoche, horizontalization, pengelompokan makna, serta&#13;
penyusunan deskripsi tekstural dan struktural guna memperoleh esensi&#13;
pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembungkaman dan&#13;
pelestarian toxic masculinity beroperasi melalui mekanisme yang serupa, yaitu&#13;
pengulangan wacana, normalisasi standar laki-laki ideal, serta kontrol sosial&#13;
melalui tuntutan konformitas terhadap norma maskulinitas dominan. Tuntutan&#13;
tersebut dikonstruksi dalam wacana maskulinitas yang bekerja secara implisit&#13;
dalam praktik komunikasi sehari-hari dan termanifestasi dalam bentuk candaan,&#13;
teguran, pertanyaan dan komentar bernada normatif yang menekankan bahwa&#13;
laki-laki tidak boleh bersikap lemah lembut serta diasosiasikan dengan perilaku&#13;
seperti merokok, mengonsumsi alkohol, memiliki pasangan perempuan, bermain&#13;
biliar, kartu dan sepak bola, gim, gym, serta membatasi kedekatan dengan&#13;
perempuan. Pembungkaman muncul ketika mahasiswa memilih diam, menahan&#13;
ekspresi, atau menyesuaikan diri akibat tekanan standar maskulinitas dominan.&#13;
Sementara itu, pelestarian berlangsung melalui penerimaan dan reproduksi norma&#13;
maskulinitas, termasuk keterlibatan perempuan sebagai agen pelestarian melalui&#13;
ekspektasi terhadap laki-laki sebagai pasangan yang dominan, royal, dan kuat.&#13;
Temuan ini memperlihatkan bahwa pembungkaman dan pelestarian tidak berdiri&#13;
terpisah, melainkan membentuk pola komunikasi yang saling berkaitan dalam&#13;
menjaga keberlangsungan toxic masculinity di lingkungan mahasiswa.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-02-02</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>