<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>ANALISIS PERSEPSI LAKI-LAKI DEWASA MUDA TERKAIT&#13;
HASHTAG #MARRIAGE IS SCARY</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Salma Faiz Maulida</mods:namePart><mods:namePart type="family">Putri</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Fenomena hashtag #MarriageIsScary yang marak di media sosial sejak &#13;
2024–2025 muncul beriringan dengan fenomena meningkatnya angka perceraian&#13;
dan menurunnya minat pernikahan di Indonesia. Narasi tersebut berpotensi&#13;
berdampak besar untuk membangun persepsi negatif para generasi muda, dan&#13;
dampak jangka panjangnya, angka pernikahan bisa saja mengalami penurunan&#13;
ekstrem sehingga terjadi ketimpangan populasi di Indonesia karena minim generasi&#13;
penerus untuk SDM usia produktif di masa mendatang terbatas di Indoensia.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi persepsi dan respons laki-laki dewasa&#13;
muda terhadap fenomena tersebut, sebab diskursus sebelumnya kebanyakan fokus&#13;
pada wanita. Perspektif laki-laki dibutuhkan karena perannya juga tidak kalah&#13;
penting untuk memulai sebuah pernikahan yakni sebagai inisiator. Sehingga&#13;
persepsi laki-laki menjadi kunci utama sebagai pihak yang memulai pernikahan,&#13;
mengapa pernikahan tersebut bisa menurun. Penelitian ini yang mengkaji apakah&#13;
narasi pernikahan di media sosial tersebut menjadi kebenaran atas rasa takut dan&#13;
penolakan laki-laki untuk melangkah menuju sebuah pernikahan. Penelitian&#13;
dilakukan menggunakan paradigma kontruktivisme sosial dan pendekatan kualitatif&#13;
deskriptif. Dengan metode fenomenologi dan menggunakan teknik pengambilan&#13;
data melalui wawancara daring dan FGD terhadap 5 informan yakni laki-laki&#13;
dewasa muda berusia 20–40 tahun yang aktif menggunakan media sosial, dengan&#13;
latar belakang domisili yang berbeda, tujuannya guna mendapat keragaman&#13;
persepsi. Penelitian berlandaskan oleh Teori Persepsi yang menjelaskan bagaimana&#13;
stimulus media dan pengalaman sosial dikonstruksi menjadi makna dan sikap&#13;
individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi #MarriageIsScary tidak&#13;
menjadi penyebab utama ketakutan menikah (fear of marriage), melainkan&#13;
berfungsi sebagai “alarm”, yakni refleksi rasional untuk informan dalam menilai&#13;
kesiapan diri. Kecemasan yang muncul bersifat kontekstual, didominasi dengan&#13;
kecemasan pada aspek finansial, kesiapan mental, dan pengelolaan ego. Mayoritas&#13;
informan menunjukkan literasi media yang baik dengan menggunakan proses&#13;
kognitif sebagai filter utama dalam memaknai konten, sehingga respons yang&#13;
dihasilkan juga terbilang adaptif dengan tindakan menunda pernikahan untuk&#13;
persiapan yang lebih matang, bukan untuk penghindaran total. Faktor internal&#13;
seperti internal locus of control dan pengalaman masa lalu terbukti menjadi penguat&#13;
atau pelemah stimulus media sosial dalam membentuk persepsi individu. Penelitian&#13;
ini menyimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran paradigma maskulinitas, dimana&#13;
kedewasaan kini dimaknai sebagai kemampuan untuk menjamin keberhasilan&#13;
pernikahan melalui persiapan yang mendalam.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-02-05</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>