<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>POLA KOMUNIKASI ANAK BROKEN HOME AKIBAT PERCERAIAN&#13;
DALAM MENGHADAPI KONFLIK KELUARGA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Nofikasari</mods:namePart><mods:namePart type="family">Nofikasari</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan pola&#13;
komunikasi anak broken home akibat perceraian dalam menghadapi konflik&#13;
keluarga di Yogyakarta. Perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga secara&#13;
formal, tetapi juga membentuk ulang relasi emosional, distribusi peran, serta ruang&#13;
dialog antara anak dan orang tua. Perubahan tersebut memengaruhi cara anak&#13;
mengekspresikan perasaan, merespons konflik, dan memaknai posisi dirinya dalam&#13;
keluarga pasca perceraian. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretatif&#13;
dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi untuk menggali&#13;
pengalaman hidup anak secara mendalam. Data diperoleh melalui wawancara&#13;
mendalam dan dianalisis secara tematik untuk menemukan pola makna komunikasi&#13;
yang terbentuk. Kerangka teori penelitian ini mengintegrasikan Teori Komunikasi&#13;
Interpersonal dari Joseph A. DeVito dan Teori Dialogis dari Mikhail Bakhtin. Teori&#13;
komunikasi interpersonal digunakan untuk menganalisis aspek keterbukaan,&#13;
empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan dalam relasi keluarga.&#13;
Sementara itu, teori dialogis membantu memahami komunikasi sebagai proses&#13;
negosiasi makna antara berbagai suara dalam keluarga. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa anak membentuk pola komunikasi adaptif seperti memendam&#13;
emosi, menghindari konfrontasi, bersikap akomodatif, atau membangun dialog&#13;
terbuka sesuai dengan kualitas relasi dan rasa aman emosional yang mereka&#13;
rasakan. Diam dimaknai sebagai strategi perlindungan diri sekaligus upaya menjaga&#13;
stabilitas keluarga. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi menjadi ruang&#13;
penting bagi anak dalam membangun identitas dan ketahanan emosional di tengah&#13;
konflik keluarga.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-02-09</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>