%0 Thesis %9 S1 - Sarjana %A Nofikasari, Nofikasari %A Universitas AMIKOM Yogyakarta, %B Fakultas Ekonomi & Sosial %D 2026 %F universitasamikomyogyakarta:32532 %I Universitas AMIKOM Yogyakarta %K Communication patterns, Broken home, Divorce, Family conflict, Interpersonal communication, Dialogic theory, Pola komunikasi, Perceraian, Konflik keluarga, Komunikasi interpersonal, Dialogis. %T POLA KOMUNIKASI ANAK BROKEN HOME AKIBAT PERCERAIAN DALAM MENGHADAPI KONFLIK KELUARGA %U https://eprints.amikom.ac.id/id/eprint/32532/ %X Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan pola komunikasi anak broken home akibat perceraian dalam menghadapi konflik keluarga di Yogyakarta. Perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga secara formal, tetapi juga membentuk ulang relasi emosional, distribusi peran, serta ruang dialog antara anak dan orang tua. Perubahan tersebut memengaruhi cara anak mengekspresikan perasaan, merespons konflik, dan memaknai posisi dirinya dalam keluarga pasca perceraian. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretatif dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman hidup anak secara mendalam. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik untuk menemukan pola makna komunikasi yang terbentuk. Kerangka teori penelitian ini mengintegrasikan Teori Komunikasi Interpersonal dari Joseph A. DeVito dan Teori Dialogis dari Mikhail Bakhtin. Teori komunikasi interpersonal digunakan untuk menganalisis aspek keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan dalam relasi keluarga. Sementara itu, teori dialogis membantu memahami komunikasi sebagai proses negosiasi makna antara berbagai suara dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak membentuk pola komunikasi adaptif seperti memendam emosi, menghindari konfrontasi, bersikap akomodatif, atau membangun dialog terbuka sesuai dengan kualitas relasi dan rasa aman emosional yang mereka rasakan. Diam dimaknai sebagai strategi perlindungan diri sekaligus upaya menjaga stabilitas keluarga. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi menjadi ruang penting bagi anak dalam membangun identitas dan ketahanan emosional di tengah konflik keluarga.