<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES TERHADAP &#13;
REPRESENTASI PERUNDUNGAN SANTRI DALAM&#13;
FILM HORROR MUNKAR</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Panut Budi</mods:namePart><mods:namePart type="family">Dermawan</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi perundungan santri dalam &#13;
film horor “Munkar” menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Penelitian&#13;
ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, yang&#13;
memandang film sebagai teks budaya yang membentuk makna melalui tanda visual&#13;
dan naratif. Analisis dilakukan pada lima adegan yang merepresentasikan&#13;
perundungan santri dengan mengkaji tiga lapis makna yaitu, denotasi, konotasi serta&#13;
mitos. Pada denotasi, film “Munkar” menampilkan kekerasan fisik, verbal serta&#13;
psikologis terhadap santri junior. Pada konotasi, perundungan dimaknai sebagai&#13;
simbol hubungan kekuasaan, budaya senioritas, dan tekanan sosial di pesantren.&#13;
Pada mitos, film membentuk cerita bahwa kekerasan merupakan bagian wajar dari&#13;
pendispilinan yang dinormalisasi dalam struktur sosial pesantren. Penelitian ini&#13;
mengisi kekosongan studi semiotika Roland Barthes pada film horor Indonesia&#13;
dengan konteks perundungan santri yang khas budaya kita. Posisi penelitian sebagai&#13;
pionir kritis-konstruktivis yang mengungkap ideologi kekerasan terselubung agama&#13;
melalui media populer, sekaligus berkontribusi pada wacana reformasi budaya&#13;
pesantren modern. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa perundungan di film&#13;
“Munkar” direpresentasikan sebagai praktik sosial yang tidak berdiri sendiri, tetapi&#13;
berkaitan dengan sistem hierarki dan budaya antar santri. Dengan demikian, film&#13;
ini bukan hanya hiburan, melainkan media yang menyampaikan gambaran dan&#13;
refleksi sosial tentang perundungan santri di lingkungan pendidikan berbasis&#13;
agama.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-01-07</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>