<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>PERAN KOMUNIKASI KELUARGA TERHADAP KESEHATAN&#13;
MENTAL REMAJA (FENOMENA TOXIC PARENTS)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Muhtarol</mods:namePart><mods:namePart type="family">Anam</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran komunikasi keluarga dengan &#13;
karakteristik toxic parents terhadap kesehatan mental remaja usia 17–21 tahun di&#13;
Kabupaten Kebumen. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih&#13;
ditemukannya pola komunikasi keluarga yang cenderung menekan, minim empati, dan&#13;
kurang memberikan ruang dialog bagi remaja, sehingga berpotensi menimbulkan&#13;
gangguan kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan&#13;
pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive&#13;
sampling, melibatkan remaja dan orang tua yang memiliki pengalaman langsung terkait&#13;
pola komunikasi keluarga. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam,&#13;
observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui proses&#13;
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi dalam keluarga informan &#13;
cenderung bersifat satu arah, didominasi oleh gaya komunikasi agresif dan non-asertif,&#13;
seperti nada bicara keras, kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain, serta&#13;
minimnya ruang untuk mengekspresikan perasaan. Kondisi tersebut berdampak pada&#13;
munculnya tekanan emosional, kecemasan, kesepian, gangguan tidur, dan&#13;
kecenderungan menarik diri pada remaja. Perbedaan cara pandang antara orang tua dan&#13;
anak mengenai makna komunikasi juga menjadi faktor yang memperkuat ketegangan&#13;
dalam hubungan keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas dan gaya&#13;
komunikasi keluarga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental remaja.&#13;
Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk membangun komunikasi keluarga yang lebih&#13;
terbuka, empatik, dan dua arah agar kebutuhan emosional remaja dapat terpenuhi&#13;
dengan baik.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2025-11-27</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>