<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>{JALUR NON REGULER -SKEMA ARTIST FILM MAKER} PENERAPAN TEKNIK SINEMATOGRAFI DALAM MEMBANGUN&#13;
REPRESENTASI EMOSIONAL PADA FILM DOKUMENTER “RUMAH&#13;
KEDUA”</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Gita Triyana</mods:namePart><mods:namePart type="family">Dessy</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Film dokumenter merupakan salah satu bentuk karya audio visual nonfiksi&#13;
yang merekam dan menyajikan realitas kehidupan sehari-hari secara faktual, tanpa&#13;
perlu ditafsirkan ulang maupun diubah menjadi bentuk fiksi atau dunia khayalan.&#13;
Film dokumenter “Rumah Kedua” mengangkat kehidupan para lansia di Balai&#13;
Pelayanan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) atau panti jompo. BPSTW mempunyai&#13;
tugas sebagai pelaksana teknis dalam perlindungan, pelayanan dan jaminan sosial&#13;
bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial lanjut usia.  Dengan dibuatnya film&#13;
dokumenter ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sosial di kalangan anak&#13;
muda dan masyarakat luas mengenai pentingnya merawat lansia sebagai bagian dari&#13;
tanggung jawab moral dan sosial keluarga. Dalam proses penciptaannya, penulis&#13;
berperan sebagai Director of Photography (DOP) yang menerapkan teknik&#13;
sinematografi berdasarkan teori 5C’s yang dikemukakan oleh Joseph V. Mascelli,&#13;
meliputi komposisi (composition), sudut kamera (camera angle), pengambilan&#13;
gambar dekat (close-up), pemotongan adegan (cutting), dan kesinambungan adegan&#13;
(continuity), untuk membangun representasi emosional yang mendalam dalam film&#13;
dokumenter “Rumah Kedua”. Penerapan teknik 5C's pada film ini mendukung&#13;
penyajian gambaran kehidupan lansia di panti jompo secara visual, sehingga&#13;
penonton dapat menangkap suasana, dinamika relasi, dan makna emosional yang&#13;
disampaikan dengan lebih nyata dan menyentuh.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">302.2 Ilmu Komunikasi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-01-08</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>