<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>TRATEGI HEDGING INDONESIA DI ANTARA AMERIKA SERIKAT&#13;
DAN TIONGKOK PADA SEKTOR SEMIKONDUKTOR</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Enrico Raphael Joshua</mods:namePart><mods:namePart type="family">Marwa</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada sektor &#13;
semikonduktor telah mengubah struktur rantai pasok global secara signifikan,&#13;
menciptakan tantangan sekaligus peluang strategis bagi negara-negara&#13;
berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan dan bentuk&#13;
implementasi strategi hedging Indonesia dalam menavigasi rivalitas kedua&#13;
kekuatan besar tersebut guna mengamankan kepentingan teknologi nasional.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka&#13;
serta mengadopsi kerangka konseptual Comprehensive Hedging Framework dari&#13;
Alfred Gerstl. Kerangka ini digunakan untuk membedah persepsi risiko dan&#13;
peluang para elite kebijakan serta manifestasinya dalam kebijakan luar negeri dan&#13;
industri. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi hedging Indonesia lahir dari&#13;
perhitungan yang matang. Hal ini didasari oleh cara pandang elite dalam negeri&#13;
yang melihat situasi dari dua sisi sekaligus. Tiongkok dipandang memiliki nilai&#13;
strategis tinggi dalam aspek pragmatisme ekonomi, khususnya untuk penyediaan&#13;
modal cepat dan infrastruktur industri, sedangkan Amerika Serikat dinilai krusial&#13;
sebagai penyeimbang keamanan dan penyedia standar teknologi global yang&#13;
mapan. Implementasi strategi ini terwujud melalui manuver ganda yang saling&#13;
melengkapi: Indonesia melakukan keterlibatan ekonomi (limited bandwagoning)&#13;
dengan Tiongkok melalui percepatan hilirisasi silika dan pengembangan kawasan&#13;
industri, namun secara simultan melakukan pengikatan (binding-engagement)&#13;
dengan Amerika Serikat melalui kerja sama pengembangan sumber daya manusia&#13;
dan diversifikasi teknologi untuk mencegah ketergantungan tunggal atau lock-in.&#13;
Temuan ini juga menyoroti karakteristik unik strategi Indonesia berupa resourcebased&#13;
&#13;
hedging, yang memanfaatkan kontrol atas bahan baku kritis sebagai daya&#13;
tawar utama, berbeda dengan pendekatan berbasis insentif fiskal yang umum&#13;
diterapkan negara tetangga. Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga otonomi&#13;
strategis Indonesia, memungkinkan negara menyerap investasi dari kedua belah&#13;
pihak tanpa terjebak dalam keberpihakan blok yang kaku.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">327 Hubungan internasional</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-02-06</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ekonomi &amp; Sosial</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>