<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>EKSPERIMEN MODEL VISION TRANSFORMER DAN SWIN&#13;
TRANSFORMER BERBASIS FINE-TUNING UNTUK MULTILABEL&#13;
MULTI-KRITERIA&#13;
PADA&#13;
CITRA&#13;
X-RAY&#13;
PARUPARU</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Rizky Nanda</mods:namePart><mods:namePart type="family">Anggia</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penyakit paru-paru merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan&#13;
mortalitas di dunia, sehingga deteksi dini memiliki peran penting dalam&#13;
meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas penanganan medis. Citra rontgen&#13;
dada (Chest X-ray) merupakan modalitas pencitraan yang paling umum digunakan&#13;
untuk mendeteksi berbagai penyakit paru, namun proses interpretasinya masih&#13;
sangat bergantung pada keahlian radiolog dan berpotensi menimbulkan&#13;
subjektivitas, terutama pada kasus dengan lebih dari satu kondisi patologis dalam&#13;
satu citra. Kompleksitas ini dapat berdampak pada keterlambatan diagnosis dan&#13;
ketidakkonsistenan hasil interpretasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk&#13;
mengembangkan dan mengevaluasi pendekatan deteksi otomatis penyakit paru&#13;
berbasis deep learning menggunakan arsitektur transformer, yaitu Vision&#13;
Transformer (ViT) dan Swin Transformer. Penelitian dilakukan menggunakan&#13;
dataset CheXpert-v1.0-small yang terdiri dari citra X-ray dada dengan 12 label&#13;
penyakit paru yang relevan. Tahapan penelitian meliputi pembersihan dan prapemrosesan&#13;
data,&#13;
penanganan&#13;
label&#13;
tidak&#13;
pasti,&#13;
pembagian&#13;
data&#13;
menjadi&#13;
data&#13;
latih,&#13;
&#13;
validasi,&#13;
dan&#13;
uji,&#13;
serta&#13;
pelatihan&#13;
model&#13;
dalam&#13;
dua&#13;
skenario,&#13;
yaitu&#13;
baseline&#13;
(non&#13;
finetuning)&#13;
&#13;
dan fine-tuning. Evaluasi kinerja model dilakukan menggunakan metrik&#13;
Area Under the Curve – Receiver Operating Characteristic (AUC-ROC) sebagai&#13;
indikator akurasi klasifikasi multi-label. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
penerapan fine-tuning mampu meningkatkan performa kedua model secara&#13;
konsisten, di mana Swin Transformer hasil fine-tuning menunjukkan kinerja paling&#13;
stabil dengan nilai AUC berada pada rentang 0,75–0,88 pada sebagian besar label&#13;
penyakit, termasuk pneumonia. Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan&#13;
sebagai dasar pengembangan sistem pendukung keputusan klinis berbasis&#13;
kecerdasan buatan untuk membantu proses diagnosis penyakit paru secara lebih&#13;
cepat dan objektif.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">000 Ilmu komputer, informasi dan pekerjaan umum</mods:classification><mods:classification authority="lcc">006 Metode komputer khusus</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-01-28</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas AMIKOM Yogyakarta;Fakultas Ilmu Komputer</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>