%0 Thesis %9 S1 - Sarjana %A FADILAH, MUHAMMAD AKBAR %A Universitas AMIKOM Yogyakarta, %B Fakultas Ekonomi & Sosial %D 2025 %F universitasamikomyogyakarta:31582 %I Universitas AMIKOM Yogyakarta %K Gaya Komunikasi, Guru dan Siswa, Asertif, Kenakalan Remaja, Bimbingan Konseling. Communication Style, Teachers and Students, Assertive, Juvenile Delinquency, Counseling. %T GAYA KOMUNIKASI ANTARA GURU DAN SISWA DI SMKN 3 YOGYAKARTA DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA %U https://eprints.amikom.ac.id/id/eprint/31582/ %X Penelitian ini di lakukan bertujuan untuk mengkaji gaya komunikasi antara guru dan siswa di SMKN 3 Yogyakarta dalam upaya menanggulangi kenakalan remaja. Latar belakang penelitian ini didasari oleh tingginya kasus pelanggaran aturan dan perilaku menyimpang di kalangan siswa yang berpotensi mengganggu iklim belajar. Oleh karena itu, peran sekolah dalam menanggulangi masalah ini sangat penting, khususnya melalui gaya komunikasi guru yang berinteraksi langsung dengan siswa dalam keseharian di lingkungan sekolah. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru bimbingan konseling lebih dominan menggunakan gaya komunikasi asertif, karena dinilai paling efektif dalam membangun hubungan yang terbuka, penuh rasa hormat, serta memberi ruang bagi siswa untuk menyadari kesalahan tanpa merasa dihakimi. Sebaliknya, gaya komunikasi agresif cenderung dihindari karena berisiko menimbulkan ketakutan, perlawanan, dan memperburuk relasi guru-siswa. Adapun gaya pasif maupun pasif-agresif juga jarang digunakan karena dinilai kurang mampu memberikan solusi yang jelas. Secara keseluruhan, gaya komunikasi asertif terbukti menjadi strategi utama yang mendukung keberhasilan guru dalam membimbing, mendisiplinkan, dan menumbuhkan kesadaran siswa terhadap aturan. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan kenakalan remaja tidak hanya bergantung pada pemberian sanksi, tetapi sangat ditentukan oleh bagaimana guru membangun komunikasi yang humanis, konsisten, dan mendorong keterlibatan aktif siswa.