%0 Thesis %9 S1 - Sarjana %A Pratama, Bintang Agung Bakti %A Universitas AMIKOM Yogyakarta, %B Fakultas Ekonomi & Sosial %D 2025 %F universitasamikomyogyakarta:31576 %I Universitas AMIKOM Yogyakarta %K Analisis Wacana Kritis, Norman Fairclough, Media Daring, Barak Militer Pelajar, Dedi Mulyadi, Critical Discourse Analysis, Online Media, Student Military Barracks Program %T ANALISIS WACANA KRITIS MEDIA TERHADAP TEKS ARTIKEL BERITA PROGRAM BARAK MILITER PELAJAR DEDI MULYADI PADA MEDIA DARING CNN.INDONESIA.COM, LIPUTAN6.COM, KOMPAS.COM, DETIK.COM. %U https://eprints.amikom.ac.id/id/eprint/31576/ %X Meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan pelajar Indonesia, seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan menurunnya disiplin, mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan program kontroversial“BarakMiliter Pelajar” yag digagas oleh Dedi Mulyadi. Program ii memicu perdebatapublik dan mendapat liputan luas dari media daring nasional. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga membangun wacana melalui pilihan bahasa, representasi aktor, dan strategi pembingkaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media daring membingkai program tersebut, dengan fokus pada Kompas.com, CNNIndonesia.com, Liputan6.com, dan Detik.com. Pendekatan kualitatif digunakan dengan menerapkan Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough, yang mencakup tiga dimensi: analisis teks (mikro- struktural), praktik wacana (meso-struktural), dan praktik sosiokultural (makro- struktural). Data terdiri dari delapan artikel berita daring yang dipublikasikan antara Mei hingga Juni 2025. Analisis menelaah representasi aktor, struktur narasi, strategi linguistik, serta ideologi yang mendasari pemberitaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat media membangun wacana yang berbeda. Liputan6 menekankan pada kisah human-interest dan legitimasi pemerintah, CNNIndonesia.com berfokus pada aspek teknis dan faktual, Kompas.com menghadirkan liputan yang lebih seimbang dengan menyertakan suara kritis seperti KPAI, sementara Detik.com menonjolkan unsur dramatis dan kecepatan informasi. Di semua media, Dedi Mulyadi digambarkan sebagai pemimpin yang tegas, visioner, sekaligus humanis, meskipun kritik terhadap pendekatan militeristik tetap muncul dalam beberapa artikel. Kesimpulannya, media daring tidak hanya membentuk opini publik tentang kebijakan pendidikan, tetapi juga memainkan peran penting dalam mempertahankan relasi kuasa melalui wacana.